Produk Pesantren OPOP JatimOPOP (One Pesantren One Product) merupakan program yang dicanangkan oleh pemerintah provinsi Jawa Timur bertujuan untuk meningkatkan nilai ekspor. Kali ini pemerintah berupaya untuk melakukan jemput bola dengan memotori kemandirian ekonomi dengan basis pesantren. Diharapkan dengan upaya ini makin banyak masyarakat mandiri ekonomi yang tidak ragu dalam menawarkan produk-produk mereka hingga mancanegara.

Indonesia menjadi negara dengan jumlah penganut agama Islam yang paling banyak di dunia. Hal ini memungkinkan untuk Indonesia bisa lebih mudah dan leluasa dalam mengembangkan sektor ekonomi berbasis Syariah.

Peluang Produk Pesantren Tembus Pasar Eropa
Contok produk kopi hasil alumni pesantren. Hingga saat ini kopi telah dipasarkan di pasar lokal maupun nasional.

Salah satu kabar baiknya adalah walaupun pandemi seperti ini, namun dikabarkan ekonomi Syariah masih bisa bertumbuh dengan baik. Hal tersebut sudah pasti karena adanya dukungan dari berbagai macam sektor.

Salah satu yang memiliki peranan penting dalam perkembangan ekonomi Syariah tersebut adalah pesantren. Pesantren sekarang dinilai tidak hanya sebagai konsumen namun juga sebagai produsen. Bahkan sekarang pesantren diharapkan bisa menghasilkan sebuah produk yang nantinya akan dikembangkan dan dipasarkan. Jika perlu hasil dari produksi tersebut juga akan dipasarkan hingga ke luar negeri atau ekspor.

Dengan adanya kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuat sebuah program bernama OPOP atau One Pesantren One Product. Tujuan dari OPOP tersebut adalah sebisa mungkin agar hasil produk dari pesantren bisa dipasarkan hingga mancanegara. Sehingga diharapkan OPOP nanti bisa menjadi membantu untuk memotori kemandirian ekonomi Syariah. Menurut Sekretaris OPOP Jatim, produk yang dihasilkan OPOP ini nantinya akan memiliki kesempatan untuk ekspor.

Dengan adanya kesempatan tersebut juga membuka peluang yang besar bagi pesantren-pesantren lainnya untuk semakin mengembangkan usahanya. Hal ini juga sekaligus sebagai bentuk pengembangan produsen yang tidak hanya dari orang awam saja namun lebih dikhususkan dari pesantren. Secara langsung juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi Syariah dan ekonomi pesantren tersebut sendiri.

Salah satu contoh pesantren yang sudah memiliki produk dengan orientasi ekspor merupakan Pesantren Sunan Drajat. Pesantren ini terletak di Lamongan. Beberapa hasil produksi mereka bahkan sudah ada yang di ekspor ke beberapa negara di Asia. Contohnya Malaysia, Vietnam, Thailand, hingga Singapura. Dengan adanya kesempatan tersebut sekaligus membuat opop harus bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan. Pastinya ada banyak tantangan dan juga syarat agar sebuah produk bisa masuk hingga pasar Eropa.

Agar produk bisa diterima oleh pasar Eropa, maka penting untuk mengetahui sertifikasi produk pangan yang ada di negara Uni Eropa. Hal ini juga penting untuk membantu agar produk pesantren tidak kalah dengan produk dari negara lainnya. Terutama karena sektor ekonomi Syariah yang berfokus pada produk pesantren belum banyak berkembang. Para pembimbing diharapkan mengerti beberapa hal yang dibutuhkan untuk ekspor barang ke luar negeri. Seperti tahu mengenai perizinan, standarisasi, sertifikasi dan ketentuan lainnya.

Produk unggulan dari OPOP yang bisa dijadikan contoh untuk ekspor adalah kopi. Hal ini juga karena kopi menjadi salah satu komoditi yang banyak diproduksi oleh pesantren. Selain itu juga ada coklat yang menjadi produk yang disarankan Gubernur Jawa Timur. Kedua produk tersebut diharapkan bisa menjadi sumber produk yang di ekspor dengan skala internasional. Produk kopi dan juga coklat bisa dibuat dengan berbagai macam ciri khas sehingga akan lebih tinggi kesempatannya untuk bisa bersaing dengan produk sejenis lainnya.

Menurut Prof. Dr. Ing Hendro Wicaksono adanya produk dari pondok pesantren di Jawa Timur ini bisa menjadi potensi yang cukup besar untuk peningkatan pelaku ekonomi Syariah. Selain itu adanya produk dengan sertifikasi halal juga menjadi salah satu incaran masyarakat yang ada di Jerman. Jerman sendiri menjadi pemasok makanan terbesar yang ada di Uni Eropa. Oleh karenanya, Jerman menjadi pusat perkembangan standar sertifikasi makanan untuk wilayah Uni Eropa. Hal ini juga membuat beberapa negara lainnya juga akan mengikuti pasokan produk makanan tersebut.

Dalam kata lain, produsen yang bisa berhasil mendapatkan sertifikasi makanan dari Jerman akan memilik kesempatan dan akses yang lebih besar untuk bisa memasuki pasar. Terutama pasar uni Eropa. Jika produk tersebut sudah masuk dalam pasar Jerman maka juga akan lebih mudah dikembangkan atau disebarkan pada negara lain. Sehingga ke depannya akan lebih mudah produk halal dalam negeri yang masuk ke beberapa negara sekaligus.

Menurut Prof. Hendro, rencana bulan April atau Mei tahun ini akan mulai dikirimkan contoh satu produk berupa kaldu makanan dari Sidoarjo ke Jerman. Beliau menyarankan agar pada kemasan produknya bisa berisi komposisi dan kandungan nutrisi pada bahan yang ada.

Hal ini juga karena masyarakat di sana yang cukup detail pada kandungan yang ada pada produk. Bahkan jika ada katalog yang bisa disediakan juga bagus jika dikirimkan dengan produknya untuk lebih memperkenalkannya.

Ke depannya diskusi mengenai hal ini akan dilakukan semakin intens dengan menggandeng beberapa organisasi daerah dan para stakeholders. Misalnya seperti Diskop atau Dinas Koperasi dan UKM, Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) hingga Diskominfo Jawa Timur.

Dengan adanya hal baik ini pesantren sebagai produsen utama diharapkan bisa meningkatkan produktivitas serta kualitas produk. Sedangkan pemerintah akan berusaha untuk menyokong atau membantu produsen-produsen tersebut untuk memasarkan produknya. Terutama untuk kebutuhan penjualan hingga mancanegara.

Hal tersebut juga sangat bagus untuk membantu perkembangan ekonomi Syariah di Indonesia. Terutama dengan adanya peluang banyaknya umat muslim di Indonesia. Ini bisa dijadikan sebuah upaya untuk meyakinkan bahwa produk halal yang diproduksi Indonesia cukup bagus. Sehingga akan lebih banyak orang juga yang percaya atau mulai mencoba produk makanan dari Indonesia. Selain itu juga mendorong industri halal yang ada di Indonesia bisa lebih berkembang hingga dikenal luas oleh masyarakat luar negeri.